Google Developer Expert Beri Insight pada 300 Developer di GDG DevFest Semarang 2016

GDG DevFest Semarang 2016

GDG DevFest Semarang – Tidak ketinggalan dengan kota lainnya, tahun ini GDG Semarang bersama dengan GDG Indonesia ikut menyemarakkan event tahunan yang dinamakan GDG DevFest. GDG DevFest merupakan sebuah rangkaian seminar, sharing, dan workshop mengenai tren teknologi terbaru Google bagi para developer aplikasi di Indonesia.

Acara tahun ini membawa tema “Hack Beyond Boundaries”, dan dalam event ini DevFest membahas tentang teknologi, kesempatan, dan generasi selanjutnya bagi developer mobile apps. Event yang terselenggara pada tanggal 6 November 2016 ini berlokasi di Aula Gedung E Lantai 3, Universitas Dian Nuswantoro (UDINUS).

Sebelum acara utama dimulai, pagi hari pukul 9.00 GDG DevFest Semarang diawali dengan Codelabs Firebase yang isi oleh Senior Android Developer Kulina, Pratama Wijaya. Codelabs ini sendiri dihadiri kurang lebih 40 developer Android.

dsc04531
Codelabs Firebase oleh Pratama Wijaya. Senior Android Developer di Kulina

Acara dimulai pada jam 13:20 dengan sambutan oleh M. Nurul Irfan selaku Ketua Umum Dinus Open Source Community, Fahri selaku perwakilan Universitas UDINUS dan Patrick Nugros selaku GDG Manager Semarang pada jam setengah 2 siang. Kemudian acara dilanjutkan pada acara utama yaitu sesi materi mengenai Progressive Web Apps yang disampaikan oleh Yohan Totting (Google Expert for Web Technologies).

Pada sesi ini Yohan menjelaskan tentang bagaimana Google mengembangkan teknologi web untuk mobile yang dapat diakses layaknya sebuah aplikasi mobile. Salah satu keuntungan yang didapatkan ketika mengadopsi Progressive Web Apps ini adalah lebih hemat kapasistas penyimpanan dan ramah penggunaan memori. Saat ini hanya beberapa browser yang mendukung Progressive Web, yaitu Chrome, Mozilla, dan Opera. Untuk mencobakan pengalaman menggunakan PWA ini, kamu bisa mengaksesnya di link berikut. Penerapannya sangat berguna bagi ponsel yang memiliki spesifikasi low-end.

dsc04658
Yohan Totting, Google Developer Experts for Web Technologies

Pada sesi selanjutnya dilanjutkan dengan sesi diskusi panel atau talkshow oleh Andi Taru (CEO Educa Studio) dan Tety Sianipar (CTO Kerjabilitas). Topik yang dibahas pada sesi diskusi panel ini adalah tentang Next Generation of Mobile. Hal ini berlatar belakang dari pesatnya perkembangan teknologi yang ditemukan pada saat sekarang. Selanjutnya bagaimana teknologi tersebut kemudian bisa dijadikan sebagai tools untuk menjawab masalah-masalah social. Salah satunya dibuktikan dengan kehadiran startup yang eksistensinya di masa sekarang sudah tidak asing lagi.

GDG DevFest Semarang 2016
Patrick Nugros (kiri), Andi Taru (tengah), Tety Sianipar (kanan)

Dari sesi diskusi ini, Tety Sianipar memperkenalkan startup yang sudah dia bina bersama dengan rekan-rekan lainnya. Tety mengungkapkan bahwa sedikitnya terdapat 13-15% penyandang disabilitas di negara-negara berkembang. Jumlah tersebut tidak bisa disepelekan begitu saja, namun hal yang disorot dari jumlah tersebut adalah banyaknya teman-teman kita yang berada pada usia produktif tersebut tapi tidak mendapatkan lapangan pekerjaan. Oleh karena itu Kerjabilitas mencoba untuk membuat suatu wadah yang dapat menghilangkan gap tersebut dan meyakinkan orang banyak bahwa mereka juga layak mendapatkan hak yang sama. Startup ini dibangun dengan harapan bisa membantu teman-teman penyandang disabilitas untuk mendapatkan pekerjaan. Tety juga menyampaikan bahwa kita cukup meyakinkan teman-teman kita akan pentingnya kebutuhan tersebut untuk mereka.

Selanjutnya diskusi mengenai masa depan teknologi mobile dengan IoT sebagai core-nya. Pemanfaatan IoT dapat menjadi solusi baru di berbagai macam bidang dan pengembangan teknologi ini juga sangat berpotensi mengingat banyaknya masalah yang kita temukan di Indonesia. Oleh karena itu kemungkinan bahwa IoT akan menjadi sebuah topik yang booming tidak dapat dielakkan.

Sesi selanjutnya masuk ke sesi Google Cloud Platform yang membahas tentang pengimplementasian Machine Learning Platform pada aplikasi Android yang disampaikan oleh Sidiq Permana (Google Developer Expert Android). Pada sesi ini Sidiq menjelaskan tentang penerapan machine learning ini pada banyak platform seperti pada fitur Google Translate, Google Photo, dan Gmail. Dalam pengembangan machine learning, matematika sangat berpengaruh sebagai pemrosesan Machine Technology. Proses yang dilalui oleh mesin untuk bisa melakukan komputasi tersebut adalah membaca input dari natural language, kemudian mesin memahaminya sebagai sebuah pattern sampai akhirnya menghasilkan action. Dengan machine learning yang diterapkan pada Gmail, maka pengguna bisa memfilter konten yang terdeksi sebagai spam.

GDG DevFest Semarang 2016
Sidiq Permana, Google Developer Expert for Android

Selanjutnya sesi pengenalan Daydream VR yang disampaikan oleh Ivan Chen dari Anantarupa Studios. Pada sesi ini Ivan memperkenalkan teknologi Daydream VR ini sebagai generasi selanjutnya dari pelopor teknologi Google Cardboard. Ternyata teknologi VR sudah ada sejak tahun 1950 dan ditemukan oleh Cinematographer bernama Mornon Heilig yang kemudian diberi nama Sensorama (Dipatenkan pada tahun 1962).

GDG DevFest Semarang 2016
Ivan Chen, Derector Anantarupa Studio

Pada sesi selanjutnya, Andrew Kurniadi (Google Developer Expert Android) mengusung tema tentang fitur-fitur terbaru pada Android N (Nougat). Dari sesi tersebut Andrew menyebutkan sedikitnya ada 10 fitur baru yang diperkenalkan pada Android N. Salah satu fitur yang diperkenalkan pada sesi tersebut adalah Doze on the Go yang berfungsi untuk menghemat penggunaan baterai bahkan ketika perangkat sedang digunakan. Fitur lain yang diperkenalkan adalah Multi – Window Support, Quick Settings, Direct Boot, Dukungan Java Lambda 8, dan Instant App. Tidak hanya itu, Google bekerja pada peningkatan fitur-fitur yang sudah ada sebelumnya dalam hal performance, productivity, dan security.

GDG DevFest Semarang 2016
Andrew Kurniadi, Google Developer Expert for Android

Masuk pada sesi terakhir yaitu sesi firebase oleh Andri Yadi selaku CEO dari DyCode. Pada sesi ini Andri menjelaskan bahwa firebase lahir pada tahun 2014 yang digunakan untuk memanage data secara realtime. Ketika ada perubahan data, maka data secara langsung akan tersinkron. Firebase tidak harus diakses dalam keadaan online, namun juga dapat digunakan secara offline, data akan disinkronisasi jika sudah terhubung secara online. Firebase dapat diakses di halaman firebase.google.com. DyCode juga membangun komunitas untuk para Makers di Bandung bernama Makerstro.

GDG DevFest Semarang 2016
Andri Yadi, CEO DyCode dan DyCodeX

Ada satu hal yang menari disini, jika kamu pernah membaca artikel ini. Kamu pasti tahu dengan Linux, bukan Linux sistem operasi. Linux beserta Hanif juga ikut hadir pada event GDG DevFest di Semarang. Jika kamu belum tahu, Linux adalah  peserta termuda pada event Hackathon Indonesia Android Kejar beberapa waktu lalu. Linux merupakan siswa SMP kelas 7 di SMP Negeri 1 Semarang.

Linux
Linux

Peserta antusias sampai berarkhirnya acara.

Dilihat 314 kali

Related Posts

About The Author

Game dan app reviewer, kontributor nyeleneh yang kadang juga nulis.