Para Expert Bicara Masa Depan Teknologi Mobile di GDG DevFest Yogyakarta 2016

GDG DevFest Yogyakarta 2016

GDG DevFest Yogyakarta 2016 – Mengikuti serangkaian acara GDG DevFest 2016 di 6 kota Indonesia, GDG DevFest Yogyakarta 2016 dilaksanakan pada 5 November lalu. Bekerja sama dengan Universitas Kristen Duta Wacana, event GDG DevFest dihadiri kurang lebih 200 developer mobile dan web.

Event ini diisi oleh para expert yang ahli dibidangnya masing masing, seperti Google Expert, CEO dari berbagai Startup teknologi dan CTO dari Startup yang merupakan alumni dari Google Launchpad Accelerator batch pertama.

GDG DevFest Yogyakarta diawali dengan Codelabs Firebase pada pagi hari yang isi oleh Senior Android Developer Kulina, Pratama Wijaya. Codelabs ini sendiri dihadiri kurang lebih 40 developer Android.

GDG DevFest 2016
Codelabs Firebase oleh Pratama Wijaya, Senior Android Developer di Kulina

Acara utamanya yaitu Conference diadakan siang hari. Dibuka oleh GDG Manager Yogyakarta, Guntur Sarwohadi. Beliau memperkenalkan GDG yang merupakan komunitas developer untuk belajar mengenai teknologi terbaru Google. DevFest merupakan acara annual tahunan yang sudah sering diselenggarakan sejak tahun 2012.

GDG DevFest Yogyakarta 2016 - Guntur Sarwohadi
Guntur Sarwohadi, GDG Manager Yogyakarta

Sesi pertama dibawakan oleh Yohan Totting, Google Expert in Web Technology. Beliau membawakan materi tentang Progressive Web Apps. Yohan mengatakan salah satu issue bahwa aplikasi dekstop akan tergantikan aplikasi web. Sebenarnya developer tidak perlu takut karena segmen nya berbeda, aplikasi awal kemunculannya dari desktop.

GDG DevFest Yogyakarta 2016 - Yohan Totting
Yohan Totting, Google Developer Expert for Web Technologies

Jika dilihat salah satu kelemahan aplikasi dekstop adalah distribusi. Sebagai contoh distributor di AS harus mengirimkan DVD ke Indonesian dalam prosesnya kemungkinan akan ada gagal install. Reveolusi aplikasi web dimulai sejak munculnya teknologi baru bernama Ajax pada akhir tahun 90-an. Salah satu kekuatan dari aplikasi web adalah distribusinya yang sangat mudah. Pengguna tidak perlu men-download, pengguna cukup membuka URL dan dapat langsung diakses.

Dari hasil riset dikatakan, tingkat engagement aplikasi web dapat hilang 20%, dimulai dari membuka halaman store, instalasi, buka aplikasi, sign up, membuat konten dan kemudian post. Kalau pada aplikasi desktop atau native tingkat engagement-nya bisa hilang hingga 60%. Peran utama tingkat engagement dimulai dari penggna sudah membuka aplikasi. Jika dilihat, kompetisi antara native dan web ialah user experience-nya, UX yang membuat pengguna tetap stay menggunakan aplikasi.

Yohan menjelaskan bahwa pada pada tahun 2010, facebook sempat pindah dari mobile web ke native. beliau mengatakan bahwa jumlah pengguna web pada tahun 2015 lalu berkisar 800 juta pengguna tapi sekarang tahun 2016 pengguna web sudah mencapat 1 milyar pengguna. Pengguna web selalu lebih besar, yang dibicarakan ialah standar dan bukan platform-nya. Dimana kalau sudah menjadi standar maka semua harus memakainya.

Saat ini 3 browser sudah mendukung progressive web apps diantaranya Chrome, Firefox dan Opera. Sementara Microsoft Edge dan Apple Safari sudah mulai melirik kesana. Yohan sudah memulai koding html sejak tahun 2000, beliau percaya bahwa “web is the next platform masa depan sampai akhirnya terjadi perubahan”.

Salah satu alasan kenapa developer membutuhkan aplikasi native ialah karena performance, bisa diakses offline, periodic background processing, notifikasi, sensor dan fitur spesifik os.

Progressive Web Apps membawa pengalaman native di web, seperti kemampuan untuk digunakan secara offline, membuat icon shortcut di homesecreen dan mengirim notifikasi. Salah satu teknologi yang membuat PWA bisa offline adalah service worker. Menurut Yohan, service worker ini semacam proxy, walaupun tab-nya di close prosesnya akan tetap jalan secara background. Cara kerjanya beberapa asset web akan di cache tujuannya untuk menghemat bandwith, kalau bicara mengenai konten tetap butuh koneksi agar kontennya tetap paling baru.

Service worker juga ada tahapan mulai dari menambahkan cache, respon cache. Saat ada permintaan dan ternyata udah ada dalam cache maka datanya akan dikembalikan, kalau ternyata permintaan tidak ada dalam cache maka akan lanjut mengakses server.

Yohan memberikan contoh kemudahan pengguna jika menggunakan PWA. Bayangkan kalau restoran membuat aplikasi progressive web app untuk memesan makanan pada menu. Pengguna cukup mengakses URL nya saja.

Pada sesi kedua DevFest Yogyakarta ialah panel diskusi dengan tema “Next Generation of Mobile”. Sesi ini diisi oleh Tety SiaTety Sianipar, CTO at Kerjabilitas Lutvy Rosyady, Head of Product Go-Jek M Aditya Ariel Nugraha, Dirut GamaTechno dan Gisneo Planala Putra dari Circustudio sebagai moderator.

GDG DevFest Yogyakarta 2016
Panel Discussion: The Next Generation of Mobile (Gisneo Pranala Putra, M. Arief Nugraha, Tetty Sianipar, Lutvi Rosyadi)

Berikut percakapan menarik yang dibahas pada sesi ini

Gisneo: Bisa dijelaskan gak gamatechno itu apa?

Arief: Gamatechno adalah perusahaan prehistoric. Sudah di industri digital 13 tahun lalu. Mulai Gamatechno 2003 awal, mulai bisnis gak ada referensi apapun. Tahunya Microsoft, SAP, dll. Akhirnya sekarang mendefinisikan Gamatechno sebagai software house lebih untuk ke smart city. Gamatechno lebih banyak main di aplikasi untuk smart city.

Gisneo: Apa itu kerjabilitas?

Tety: Saya sendiri masuk di IT 2010 kerja sebagai developer game mobile. Lalu saya kerja untuk organissasi di Atambua, kantornya di Jogja. Saya belajar memanfaatkan teknologi untuk sosial. Bagaimana ibu-ibu pakai Gdrive. Lalu 2014 kami memulai Kerjabilitas. Kami memandang IT ini bukan sekedar hal-hal yang mahal tapi bisa menjadi enabler. Lihat teman-teman tunawicara yang memanfaatkan teknologi untuk bicara, ngenalin duit pakai app gak cuma pakai tangan. Jadi di Kerjabilitas kami percaya teknologi tidak hanya menyelsaikan masalah-masalah besar tapi maslah-masalah kecil yang impact-nya besar.

Gisneo: Gojek adalah sebuah Startup yang bisa kita tiru, dalam waktu 6 tahun tapi market-nya udah besar di indonesia. Kenapa 2009 Gojek bisa tiba-tiba sebesar itu, gimana? Apa cara-caranya?

Lutvi : Kalo dari saya sih Gojek itu gak terlalu keren. Kalian lebay. Gojek bakal keren kalau kalian orang Jogja yang jago ngoding masuk Gojek. Di Gojek sendiri punya beberapa pilar, 5 pilar dan saya lupa apa itu. Kita gak perlu ngapalin, tapi implementasi. Kita punya 3 kunci, pertama fast. Kita selalu cepet bahkan dari sisi development. Saya pun percaya kalau juara dunia yang sebenarnya adalah orang yang bisa menaklukan waktu. Nadime sadar kalau bisa cepet maka bisa ngambil marketnya cepet. Yang kedua adalah inovasi. Gojek dituntut untuk berinovasi setiap hari. Inovasi dalam teknologi. Kita punya 1 fondasi: love customer. Yang ketiga social impact. Kunci diantara kunci. Why? Karena Gojek sendiri berhasil support driver 250 ribu se-Indonesia bisa sekolahin anaknya. Gojek dengan social impact yang luar biasa seperti itu, memberikan nilai positif bagi indonesia di ranah ekonomi micro.

Gisneo: Ngomongin soal Gojek yg rapid, melalui mobile, pasti erat dengan aplikasi. Gamatechno dulu berggeraknya dimana sekarang dimana?

Arief: Dulu mengembangkan aplikasi dengan html gundul dengan sekarang berbagai macam teknologinya. Sekarang semua pasti butuh teknologi. Kadang ada pilihan apakah terus masuk dengan teknologi yang terus berkembang advance, atau kita bermain di market yang butuh teknologi sederhana. Gamatechno sering melihat kalau sudah cukup lama di bisnis, pasti butuh uang. Bagaimana bisnis sustain tapi kita gak ketinggalan kereta. So far 13 tahun, bootstrap tetap eksis.

Gisneo: Sektorisasi market tetap dibutuhkan. Berkaitan dengan teknologi pasti ada market-nya. Saya tertarik dengan market-nya Mbak Tety. Kenapa milih market itu?

Tety: Waktu itu saya bekerja dengan issue disabilitas dengan pemerintah. Ketika mereka educated dan mandiri financial maka masalah ini selesai. Dari data un 13-15% populasi itu penyandang disabilitas dan akan berkembang sesuai negaranya berkembang. Kami melihat teknologi yang advance pun bisa dipakai untuk ini. Misal tidak dapat datang interview , kita bisa pake camera360 dll untuk menyokong kebutuhan perusahaan. Masih banyak teknologi yang belum ditemukan untuk disabilitas.

Gisneo: Keamanan teknologi. Januari 2016 Gojek datanya leaking. Gimana Mas menanggulangi ini?

Lutvi: Celah keamanan dari internal udah di-preventif dari awal. Kita gak menyalahkan customer karena basicly customer sering pakai password yang sama dibanyak akun. Akhirnya password yang sama itu ada komunitas hacker terus dicobain satu per satu. So kalau celah keamanan dari internal sudah sangat-sangat rapat tapi kita gak bisa kontrol yang dari luar.

Gisneo: Berkaitan dengan masalah mobile, disini ada 82-85% di dunia pengguna Andorid. Kalo mau buat Apps bagusnya buat lewat mobile dulu atau apa? Android dulu atau ios atau apa?

Arief: Mobile lebih akses ke sisi front end. Kan gak lucu juga kalo kita pesen Gojek pake laptop di pinggir jalan. Kalo solusi seperti itu cocoknya pake mobile kan. Atau sesuatu aplikasi yang mendeteksi sesorang yang beraktifitas, bagusnya mobile. Tetep depends on solution atau kebutuhan pasar seperti apa.

Gisneo: Ketika bicara develeopment teknologi, market harus tahu teknologinya dulu. Kalau belum tahu lalu bagaimana kita penetrasi supaya market tahu?

Tety: Ketika kita melakukan discovery, kita jadi tahu banyak faktor misal pendidikan, lingkungan, dll. Kita mengundang teman-teman Kerjabilitas dan mencoba memetakan, ternyata mereka menggunakan talkback Indonesia namanya Damayanti. Lalu kita coba pakai itu. Oh ternyata ada celahnya nih. Jadi kita lihat mereka udah punya sumber daya apa karena kami yangg mau mencoba masuk ke mereka jadi kamu yang mencari celah. Jadi kalo dari best practice yang bisa kita ambil disabilitas dekat sekali dengan ketidakbisaan tapi kita mencari abilitas mereka apa.

Gisneo: berkaitan dengan market, Gojek itukan on demand business pasti punya saingan kan? On demand business di Indonesia kan banyak. Gimana Gojek bisa bertahan?

Lutvi: Berdasarkan diskusi mentor-mentor Gojek, kita punya kendala orang yang mau buat startup. Pertama MVP (minimun variable product). Kedua People Over execute (segala sesuatu mau diberesin dalam 1 waktu) karena basiclly manusia gak bisa multitasking. Ketiga focus on 98%. Kita kadang gak fokus. Keempat Love your customer. Kalau punya customer, kalo dapat comment dari customer, itu sangat berharga. Kelima minimize dependencies.

Gisneo: Sebenernya kalau ngomongin mobile, masa depan mobile seperti apa?

Arief : Yang menarik, teknologi berkembang dari dulu. Dulu dikonsumsi oleh banyak orang, sekarang udah dikonsumsi banyak orang. Bicara mobile yang kita pegang sekarang, intinya bagi saya teknologi mobile kini kaitannya dengan bagaimana teknologi ini bisa beradaptasi dengan mobilitas manusia itu sendiri. Terkait dengan mobile ini arahnya dengan sesuatu yg wearable. Beberapa seperti kacamata, wristband, bahkan besok bentuknya tattoo. Yang kemudian menjadi pemikiran saya, issue-nya adalah mobilitas, wearable memori yang lebih efisien. Dari sisi market, peluangnya besar sekali.

Tety: Dengan mobile technology kita bisa manfaatkan ini untuk hal-hal yang lebih besar lagi bukan hanya masalah ecommerce tapi bisa menyelesaikan masalah essensial. Saya sangat tertarik dengan teknologi yang berhubungan dengan kesehatan.

Lutvi: Kalau saya simple. Teknologi mobile akan mati ketika manusia gak bisa bergerak lagi. Banyak hal yang belum dibuat dengan teknologi mobile. Saya pengen ada aplikasi yang bisa bikin kita teleportasi. Jadi intinya teknologi mobile selalu akan berkembang sepesat virus berkembang sepersekian mili second.

Sesi ketiga diisi oleh Jeanny Haliman, beliau seorang Googler tepatnya Strategic Parner Manager Google Singapura. Pada sesi ini Jeanny mengisi materi Develop with Firebase. Jeanny sendiri di Google dari tim online partnership group, visinya ialah untuk membantu developer dan publisher.

GDG DevFest Yogyakarta 2016 - Jeanny Haliman
Jeanny Putri Haliman, Strategic Partner Manager Google Singapura

Jeanny menjelaskan apa itu Firebase, yang merupakan platform yang dibangun supaya developer bisa membangun apps yang lebih baik. Fitur yang paling disoroti adalah Firebase analytics, dimana fitur ini gratis dan juga unlimited. Jeanny mencotohkan penggunaan analytics ini seperti mengetahui berapa banyak pengunjung atau yang menggunakan aplikasi, bisa melihat crash mana yang paling meng-impact user, jadi bisa membantu memprioritaskan perbaikan bug, mengetahui user berasal dari mana, bisa melihat retention user dan sebagainya.

Pada sesi keempat ini diisi oleh Ivan Chen, beliau sendiri merupakan Director di Anantarupa Studio. Ivan Chen sendiri merupakan alumni UKDW Yogyakarta. Sementara Anantarupa Studio sendiri didirikan pada tahun 2011 yang memiliki visi menjadi leader industri kreatif digital di Indonesia. Anantarupa fokus mengembangkan game, aplikasi yang berbasis Augmented Reality (AR) dan Virtual Reality (VR).

GDG DevFest Yogyakarta 2016 - Ivan Chen
Ivan Chen, Director di Anantarupa Studio

Faktanya bahwa virtual reality sudah ada sejak tahun 50-an dan ukurannya sangat besar. Pada saat ini VR dipopulerkan oleh Oculus Rift yang akhirnya dibeli oleh Facebook. Kemudian banyak vendor yang berlomba-lomba menciptakan gadget-nya sendiri.

Daydream sendiri bisa dibilang adalah Cardboard versi 2 yang lebih smart dan murah. Ivan mengatakan Google mendukung platform ini dengan backend yang bagus. Bayangkan dimana batasan jarak bisa dipecahkan dengan Virtual Reality. Google telah menyiapkan banyak konten seperti YouTube 360 derajat, kemudian street view khusus untuk VR. Kamu bisa mengunjungi suatu tempat cukup dengan VR.

Pada sesi terakhir diisi oleh Aulia Faqih, beliau merupakan pendiri dan CEO dari dirakit.com. Sesi ini Aulia menjelaskan tentang Internet of Things. Google sebelumnya memang telah memperkanalkan sistem operasi khusus untuk IoT yang bernama Brillo. Brillo sendiri dibangun diatas platform Android dan library-library khusus untuk IoT. Diperkenalkan pada Google I/O tahun 2015 yang lalu, sistem operasi Brillo baru dibuka untuk kalangan khusus dan belum dibuka untuk publik.

GDG DevFest Yogyakarta 2016 - Aulia Faqih
Aulia Faqih, CEO Dirakit.com

Beliau menjelaskan bahwa perangkat terhubung pada setiap orang meningkat dari tahun-ketahun. Pada tahun 2003, perangkat terhubung setiap orang adalah 0.08. Jika dibandingkan dengan pada tahun 2010 perangkat terhubung pada setiap orang adalah 1,84. Diperkirakan pada tahun 2020 perangkat terhubung pada setiap orang adalah 6,58.

Aulia mencontohkan penggunaan IoT pada kehidupan sehari-hari, misalnya pembalap motoGP yang menggunakan IoT agar motornya tidak bisa jatuh ketika menikung. Keamanan pada IoT juga menjadi concern, bayangkan jika kamu menggunakan IoT untuk kunci rumah. Kemudian ada orang yang menemukan celah keamanan dari perangkat IoT tersebut, maka orang tersebut dapat dengan mudah masuk ke rumah. Beliau Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak, tentu juga banyak masalahnya. Maka disitu pula banyak peluang yang bisa diselesaikan menggunakan IoT.

Acara pun berakhir dan ditutup dengan foto bersama.

Foto oleh GDG Jogjakarta

Dilihat 509 kali

Related Posts

About The Author

From developer, become tech journalist